Ngomongin soal media sosial di zaman sekarang,
jempol kita ini kadang refleksnya lebih cepat daripada rem pikiran. Ibarat
santri megang centong di dapur umum, kalau nggak hati-hati bisa tumpah ke
mana-mana!
Di dunia persilatan medsos, hukum asalnya sama
dengan muamalah nyata: medsos itu cuma wasilah (alat). Bisa jadi ladang pahala
jariyah buat dakwah yang sejuk dan silaturahmi, tapi bisa juga jadi "dosa
kuota" kalau isinya cuma ghibah digital, debat kusir, flexing, atau hobi ngebid’ah-bid’ahkan amalan orang
lain.
Dalil:
1. Perintah Tabayyun
(Klarifikasi):
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ
بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا
عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang
beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka
telitilah kebenarannya (ber-tabayyun-lah), agar kamu tidak mencelakakan suatu
kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu
itu."
Sumber: Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat [49] : 6
2. Menjaga Ucapan dan Jemari
(Status/Komentar):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِﷺ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
Terjemahan: "Dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.'"
Sumber: Shahih al-Bukhari (No. 6018) dan Shahih
Muslim (No. 47)
3. Bahaya Tulisan Sama dengan
Lisan:
وَالْقَلَمُ أَحَدُ اللِّسَانَيْنِ، فَلْيَحْفَظِ الْإِنْسَانُ مَا
يَكْتُبُهُ كَمَا يَحْفَظُ مَا يَنْطِقُ بِهِ، فَإِنَّ الْخَطَّ يَبْقَى بَعْدَ
كَاتِبِهِ، وَالْكَاتِبُ مَسْؤُولٌ عَمَّا كَتَبَتْ يَدَاهُ
Terjemahan: "Pena (tulisan/status jempol)
itu adalah salah satu dari dua lisan. Maka hendaklah seseorang menjaga apa yang
ia tulis sebagaimana ia menjaga apa yang ia ucapkan. Sebab sesungguhnya tulisan
itu akan tetap abadi setelah penulisnya tiada, dan si penulis akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang ditulis oleh tangannya."
Sumber: Ihya' 'Ulum ad-Din karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Penjelasan
dan Adab Bermedsos:
Sebagai warga Nahdliyyin dan umat Islam yang
cerdas, ada beberapa adab penting saat berselancar di dunia maya:
Saring Sebelum Sharing (Tabayyun): Jangan gampang forward berita sensasional, fitnah, atau potongan
video kajian 15 detik yang bikin ribut tanpa tabayyun. Sehingga kita diajarkan berpijak pada 4 prinsip utama:
1. Tawassuth (Moderat/tengah-tengah, tidak ekstrem).
2. Tawazun (Seimbang dalam menimbang fakta dan dalil).
3. Tasamuh (Toleran, menghargai perbedaan pandangan khilafiyah).
4. 'Adl (Adil dalam menilai orang, tidak asal ngecap sesat).
Jemari Adalah Cerminan Hati: Imam
Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin
menegaskan bahwa tulisan adalah wakil dari lisan. Mengetik komentar nyinyir,
hate speech, menyebarkan aib orang lain (ghibah digital), hukumnya persis sama dengan mengucapkannya
langsung.
Hindari Debat Kusir (Mira'): Kalau ketemu netizen atau kelompok yang hobi
'razia bid'ah', gemar menuduh amaliah tahlilan, maulidan, dan ziarah kubur itu
sesat, hadapi dengan santai, elegan, dan ilmiah. Kalau mereka cuma mau ribut
dan nggak siap diskusi ilmiah kitab, lebih baik ditinggal ngopi. Menghindari
debat kusir yang merusak hati itu perintah syariat.
Niatkan Syiar Kebaikan:
Gunakan medsos untuk menyebarkan dawuh-dawuh para kiai, mutiara hikmah ulama
salaf, konten edukatif, serta menampakkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang
ramah dan rahmatan lil 'alamin.
Kesimpulan:
Bijaklah bermedsos.Jangan sampai paket data kita habis cuma buat numpuk dosa jariyah di kolom komentar. Jadikan gawai dan jempol kita saksi di akhirat kelak bahwa ia pernah dipakai membagikan ilmu, menyambung silaturahmi, dan menebar kesejukan.
