Ruang Dakwah Lalu Ikhwanuddin
💬 Konsultasi Syariah

Adab Bermedia Sosial

Ngomongin soal media sosial di zaman sekarang, jempol kita ini kadang refleksnya lebih cepat daripada rem pikiran. Ibarat santri megang centong di dapur umum, kalau nggak hati-hati bisa tumpah ke mana-mana!

Di dunia persilatan medsos, hukum asalnya sama dengan muamalah nyata: medsos itu cuma wasilah (alat). Bisa jadi ladang pahala jariyah buat dakwah yang sejuk dan silaturahmi, tapi bisa juga jadi "dosa kuota" kalau isinya cuma ghibah digital, debat kusir, flexing, atau hobi ngebid’ah-bid’ahkan amalan orang lain.

 


Dalil:

1. Perintah Tabayyun (Klarifikasi):

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (ber-tabayyun-lah), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Sumber: Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat [49] : 6

 

2. Menjaga Ucapan dan Jemari (Status/Komentar):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِﷺ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Terjemahan: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.'"

Sumber: Shahih al-Bukhari (No. 6018) dan Shahih Muslim (No. 47)

 

3. Bahaya Tulisan Sama dengan Lisan:

وَالْقَلَمُ أَحَدُ اللِّسَانَيْنِ، فَلْيَحْفَظِ الْإِنْسَانُ مَا يَكْتُبُهُ كَمَا يَحْفَظُ مَا يَنْطِقُ بِهِ، فَإِنَّ الْخَطَّ يَبْقَى بَعْدَ كَاتِبِهِ، وَالْكَاتِبُ مَسْؤُولٌ عَمَّا كَتَبَتْ يَدَاهُ

Terjemahan: "Pena (tulisan/status jempol) itu adalah salah satu dari dua lisan. Maka hendaklah seseorang menjaga apa yang ia tulis sebagaimana ia menjaga apa yang ia ucapkan. Sebab sesungguhnya tulisan itu akan tetap abadi setelah penulisnya tiada, dan si penulis akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ditulis oleh tangannya."

Sumber: Ihya' 'Ulum ad-Din karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

 

Penjelasan dan Adab Bermedsos:

Sebagai warga Nahdliyyin dan umat Islam yang cerdas, ada beberapa adab penting saat berselancar di dunia maya:

Saring Sebelum Sharing (Tabayyun): Jangan gampang forward berita sensasional, fitnah, atau potongan video kajian 15 detik yang bikin ribut tanpa tabayyun. Sehingga  kita diajarkan berpijak pada 4 prinsip utama:

1.      Tawassuth (Moderat/tengah-tengah, tidak ekstrem).

2.    Tawazun (Seimbang dalam menimbang fakta dan dalil).

3.   Tasamuh (Toleran, menghargai perbedaan pandangan khilafiyah).

4.  'Adl (Adil dalam menilai orang, tidak asal ngecap sesat).

Jemari Adalah Cerminan Hati: Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin menegaskan bahwa tulisan adalah wakil dari lisan. Mengetik komentar nyinyir, hate speech, menyebarkan aib orang lain (ghibah digital), hukumnya persis sama dengan mengucapkannya langsung.

Hindari Debat Kusir (Mira'): Kalau ketemu netizen atau kelompok yang hobi 'razia bid'ah', gemar menuduh amaliah tahlilan, maulidan, dan ziarah kubur itu sesat, hadapi dengan santai, elegan, dan ilmiah. Kalau mereka cuma mau ribut dan nggak siap diskusi ilmiah kitab, lebih baik ditinggal ngopi. Menghindari debat kusir yang merusak hati itu perintah syariat.

Niatkan Syiar Kebaikan: Gunakan medsos untuk menyebarkan dawuh-dawuh para kiai, mutiara hikmah ulama salaf, konten edukatif, serta menampakkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang ramah dan rahmatan lil 'alamin.

Kesimpulan:

Bijaklah bermedsos.Jangan sampai paket data kita habis cuma buat numpuk dosa jariyah di kolom komentar. Jadikan gawai dan jempol kita saksi di akhirat kelak bahwa ia pernah dipakai membagikan ilmu, menyambung silaturahmi, dan menebar kesejukan.