Dalam tinjauan fikih dan adab Islami bermanhaj Ahlussunnah wal Jama'ah (khususnya Mazhab Syafi'i), Smartphone atau gawai (HP) diposisikan sebagai sarana/perantara (wasilah) yang hukum dan tata krama penggunaannya mengikuti tujuan pemakaiannya (lil wasa'ili hukmul maqashid).
Mengingat
gawai modern saat ini kerap memuat aplikasi ibadah (seperti Al-Qur'an digital,
hadits, dan kitab-kitab ulama) sekaligus fungsi komunikasi duniawi, para ulama
merumuskan adab-adab memegang dan menggunakannya sebagai berikut:
1. Aspek Thaharah
(Kesucian) dan Memegang HP Berisi Al-Qur'an:
o HP yang memuat
aplikasi atau fail Al-Qur'an tidak
dihukumi sebagai mushaf fisik ketika aplikasi tertutup/layar
mati, karena data tersebut tersimpan dalam bentuk gelombang elektromagnetik dan
memori digital. Oleh karena itu, boleh disentuh dan dibawa oleh orang yang
sedang berhadas, serta boleh dibawa ke dalam toilet asalkan aplikasi tidak
sedang terbuka menampilkan ayat suci.
o Ketika aplikasi
Al-Qur'an dibuka dan memancarkan tulisan ayat di layar kaca, secara hakikat
fikih ia tetaplah berupa pancaran cahaya/piksel (bukan tinta dan lembaran
fisik). Kendati menyentuhnya tanpa wudhu tidak dihukumi haram mutlak, demi
menjaga adab, memuliakan (ta'zhim),
dan berhati-hati (ihtiyath),
disunnahkan bersuci
(berwudhu) saat menyentuh dan membacanya.
2. Aspek Membawa HP
sebagai Barang Bawaan (Mata'):
o Membawa gawai yang di
dalamnya terdapat aplikasi Al-Qur'an sama kedudukannya seperti membawa barang
bawaan yang memuat teks Al-Qur'an di mana tujuan utamanya adalah membawa gawai
tersebut secara umum, sehingga tidak terkena larangan membawa mushaf bagi orang
yang berhadas.
3. Aspek Ibadah &
Majelis Ilmu:
o Wajib atau sangat
dianjurkan menonaktifkan dering dan notifikasi saat berada di dalam masjid atau
ketika shalat berjamaah agar tidak mengganggu (tasywisy) kekhusyukan orang lain.
o Menghindari
menyibukkan diri memainkan HP saat mengikuti pengajian atau di hadapan guru
demi menjaga tata krama (husnul
adab).
4. Aspek Privasi
(Larangan Tajassus):
o Diharamkan membuka,
mengintip, atau menyebarkan isi pesan dan galeri HP orang lain tanpa izin dan
keridhaannya, karena perbuatan tersebut termasuk memata-matai (tajassus) yang dilarang
tegas oleh syariat.
5. Aspek Akhlak &
Penggunaan Anggota Tubuh:
o Mengutamakan tangan
kanan saat memegang dan mengoperasikan HP untuk kebaikan, serta senantiasa
menjaga jemari dan pandangan mata dari kemaksiatan digital.
Berikut
adalah rujukan teks kitab kuning yang menjadi landasan dasar hukum fikih
terkait batasan mushaf, pensyariatan thaharah, dan hukum membawa barang:
REFERENSI KITAB
•
نهاية
الزين — نووي الجاوي
Halaman 30
وَالْمرَاد بالمصحف كل مَا كتب فِيهِ شَيْء من الْقُرْآن بِقصد
الدراسة كلوح أَو عَمُود أَو جِدَار كتب عَلَيْهِ شَيْء من الْقُرْآن للدراسة
فَيحرم مَسّه مَعَ الْحَدث حِينَئِذٍ سَوَاء فِي ذَلِك الْقدر المشغول بالنقوش
وَغَيره كالهامش وَمَا بَين السطور
Terjemahan dan Penjelasan:
"Dan yang dimaksud dengan mushaf adalah setiap media yang di dalamnya
tertulis sesuatu dari ayat Al-Qur'an dengan tujuan untuk dipelajari/dibaca,
seperti papan tulis, tiang, atau dinding yang ditulisi Al-Qur'an untuk
dipelajari; maka saat itu haram menyentuhnya dalam keadaan hadas, baik pada
bagian yang bertuliskan teks maupun bagian tepi dan sela-sela barisnya."
Syekh
Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa kriteria mushaf yang diharamkan untuk
disentuh saat berhadas adalah media fisik yang memang sengaja ditulisi teks
Al-Qur'an secara nyata (nuqusy)
untuk dibaca. Layar HP yang menampilkan teks melalui pancaran cahaya digital
tidak memenuhi definisi mushaf fisik permanen, sehingga tidak terkena keharaman
menyentuh mushaf bagi orang berhadas, walaupun menyentuhnya dalam keadaan suci
tetap lebih utama sebagai bentuk penghormatan.
•
أسنى
المطالب في شرح روض الطالب - ط العلمية — زكريا الأنصاري
Halaman 209
"و" يجوز مس وحمل"ما
كتب" من القرآن"لغير دراسة كالتمائم" جمع تميمة أي عوذة وهي ما
يعلق على الصغير"وما" كتب منه"على الدراهم" والدنانير
"والثياب" لما في الصحيحين أنه ﷺ كتب كتابا إلى هرقل وفيه ﴿يَا أَهْلَ
الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ﴾ الآية [آل
عمران: ٦٤] ولم يأمر حاملها بالمحافظة على الطهارة ولأن هذه الأشياء لا تقصد
بإثبات القرآن فيها قراءته فلا يجري عليها أحكام القرآن
Terjemahan dan Penjelasan:
"Dan diperbolehkan menyentuh serta membawa tulisan Al-Qur'an yang ditulis
bukan untuk tujuan dipelajari (sebagai mushaf murni), seperti jimat-jimat
penangkal (tama'im),
dan apa yang tertulis pada mata uang dirham, dinar, serta pakaian. Hal ini
berdasarkan hadits dalam Shahih Bukhari-Muslim bahwa Nabi ﷺ pernah menulis surat kepada Kaisar Heraklius yang di dalamnya
terdapat ayat Al-Qur'an (QS. Ali 'Imran: 64), dan beliau tidak memerintahkan
pembawanya untuk menjaga thaharah (bersuci), serta karena benda-benda tersebut
pada hakikatnya tidak dimaksudkan untuk dijadikan mushaf bacaan tetap, sehingga
tidak berlaku hukum-hukum mushaf padanya."
Syaikhul
Islam Zakariya Al-Anshari menegaskan bahwa benda atau perangkat yang memuat
tulisan Al-Qur'an tetapi fungsi utamanya bukan mushaf fisik (seperti surat,
mata uang, maupun perangkat multiguna seperti HP) boleh disentuh dan dibawa
oleh orang yang berhadas.
•
مغني
المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج — الخطيب الشربيني
Halaman 66
(وَالْأَصَحُّ حِلُّ حَمْلِهِ) أَيْ
الْقُرْآنِ (فِي) مَتَاعٍ كَمَا عَبَّرَ بِهِ فِي الرَّوْضَةِ أَوْ (أَمْتِعَةٍ)
تَبَعًا لِمَا ذُكِرَ إذَا لَمْ يَكُنْ مَقْصُودًا بِالْحَمْلِ بِأَنْ قَصَدَ
حَمْلَ غَيْرِهِ أَوْ لَمْ يَقْصِدْ شَيْئًا لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِتَعْظِيمِهِ
حِينَئِذٍ
Terjemahan dan Penjelasan:
"Dan menurut pendapat yang lebih sahih (al-ashahh),
halal membawa mushaf Al-Qur'an di dalam barang bawaan (seperti tas/koper) di
mana Al-Qur'an tersebut berstatus mengikut pada barang tersebut, jika Al-Qur'an
bukan menjadi tujuan utama pembawaan—yakni seseorang bermaksud membawa barang
selainnya atau tidak memaksudkan apa pun—karena dalam kondisi ini tidak
mencederai pengagungan terhadap Al-Qur'an."
Imam
Al-Khatib Asy-Syirbini menerangkan konsep haml
fi amti'ah (terbawa bersama barang lain). HP yang memuat data
Al-Qur'an ketika dibawa oleh seseorang dihukumi halal dan sah, karena niat
utamanya adalah membawa perangkat HP sebagai barang pribadi, bukan membawa
mushaf semata.
KESIMPULAN AKHIR
1. Hukum Bersuci: HP yang memuat aplikasi Al-Qur'an bukanlah mushaf fisik,
sehingga boleh disentuh dan dibawa meski dalam keadaan hadas (kecil maupun
besar). Apabila ayat Al-Qur'an sedang terbuka di layar, disunnahkan berwudhu
saat menyentuhnya sebagai bentuk adab dan ta'zhim.
2. Kamar Mandi / Toilet: Boleh membawa HP ke dalam kamar mandi dengan
syarat aplikasi Al-Qur'an dimatikan/tertutup dan tidak menampilkan lafaz-lafaz
suci di layar.
3. Adab Ibadah &
Sosial: Wajib menonaktifkan
suara HP saat shalat/di masjid agar tidak mengganggu jamaah (tasywisy), menghormati
guru dengan tidak bermain HP di majelis ilmu, serta haram mengintip data
pribadi HP orang lain tanpa izin (tajassus).
