Ngomongin soal "menemukan jati diri", anak muda zaman sekarang sering kali terjebak overthinking atau sibuk bertapa ala film petualangan demi mencari "siapa aku sebenarnya". Padahal dalam khazanah pesantren dan tasawuf Ahlussunnah wal Jama'ah (terutama ajaran Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dan Syaikh Junaid Al-Baghdadi), konsep jati diri itu sederhana tapi mendalam: Ma'rifatun Nafs (mengenal diri sendiri).
Jati
diri manusia sejati bukanlah harta, jabatan, atau gengsi rupa, melainkan
kesadaran murni bahwa kita ini adalah hamba
('abdun) yang fakir, lemah, dan butuh kepada Allah Sang
Pencipta.
Dalil:
1. Dalil Al-Qur'an:
وَلَا
تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ
اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Terjemahan:
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga
Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri (kehilangan jati diri).
Mereka itulah orang-orang yang fasik."
Sumber:
Al-Qur'an, Surah Al-Hasyr [59] : 19
2. Nukilan Kitab Ihya' 'Ulumiddin & Kimia Kebahagiaan (Imam
Al-Ghazali):
قَالَ
حُجَّةُ الْإِسْلَامِ الإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «مَعْرِفَةُ
النَّفْسِ مِفْتَاحُ مَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى، كَمَا قِيلَ: مَنْ عَرَفَ
نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ. وَلَيْسَتْ مَعْرِفَةُ النَّفْسِ أَنْ تَعْرِفَ
شَكْلَكَ الظَّاهِرَ وَلَا جَوَارِحَكَ، وَإِنَّمَا حَقِيقَتُهَا أَنْ تَعْرِفَ:
مَنْ أَنْتَ؟ وَمِنْ أَيْنَ جِئْتَ؟ وَإِلَى أَيْنَ تَذْهَبُ؟ وَلِأَيِّ شَيْءٍ
خُلِقْتَ؟ وَبِمَاذَا سَعَادَتُكَ؟ وَبِمَاذَا شَقَاوَتُكَ؟»
Terjemahan:
"Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: 'Mengenal diri
adalah kunci untuk mengenal Allah Ta'ala, sebagaimana ungkapan masyhur: Barang siapa mengenal dirinya, maka
ia akan mengenal Tuhannya. Mengenal diri itu bukanlah sebatas kamu
tahu bentuk fisik luarmu atau anggota tubuhmu, melainkan hakikatnya adalah kamu
harus tahu: Siapakah
dirimu? Dari mana kamu datang? Ke mana kamu akan pergi? Untuk apa kamu
diciptakan? Di mana letak kebahagiaan sejatimu? Dan apa yang menyebabkan
kecelakaanmu?'"
Sumber:
Kimiya-yi Sa'adat
(Kimia Kebahagiaan) & Mukaddimah Kitab 'Aja'ibul
Qalb dalam Ihya'
'Ulum ad-Din karya Imam Al-Ghazali.
3. Nukilan Kitab Al-Hikam (Syaikh Ibnu 'Atha'illah
As-Sakandari):
قَالَ
ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ السَّكَنْدَرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا
بَطَنَ فِيكَ مِنَ الْعُيُوبِ، خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ
مِنَ الْغُيُوبِ»
Terjemahan:
"Keinginanmu untuk menyingkap aib-aib dan kelemahan yang tersembunyi di
dalam dirimu (proses menemukan jati diri), jauh lebih baik daripada ambisimu
untuk menyingkap rahasia-rahasia gaib yang terhalang darimu."
Sumber:
Al-Hikam Al-'Athaiyyah
(Hikmah No. 110) karya Syaikh Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari.
Penjelasan:
Imam
Al-Ghazali membedah bahwa untuk menemukan jati diri yang sejati, manusia harus
menjawab 4 pertanyaan eksistensial:
1. Dari mana asalmu (Min aina ji'ta?): Kita
berasal dari ketiadaan, diciptakan dari setetes air yang hina (nuthfah), lalu diberi ruh
oleh Allah. Tanpa Allah, kita bukan siapa-siapa.
2. Untuk apa diciptakan (Li ayyi syai'in khuliqta?):
Bukan untuk sekadar makan, tidur, atau pamer di medsos seperti tabiat binatang
(bahimiyyah),
melainkan untuk beribadah dan menjadi khalifah pembawa rahmat.
3. Ke mana arah tujuanmu
(Ila aina tadzhab?):
Menuju kematian dan kehidupan akhirat yang kekal (Surga atau Neraka). Dunia ini
hanya tempat singgah minum (mampir
ngombe).
4. Apa hakikat
kebahagiaanmu (Fi ma
sa'adatuka?): Kebahagiaan sejati (sa'adah) ruhani manusia adalah ketika hati
tersambung dengan Allah melalui dzikir, ilmu, dan ketaatan, bukan dari validasi
manusia.
Kunci Tasawuf Salaf Aswaja:
Seseorang baru benar-benar menemukan jati dirinya ketika ia menyadari status
aslinya sebagai hamba: Maha
Kaya itu milik Allah, sedangkan sifat asli manusia adalah fakir; Maha Kuat itu
Allah, manusia itu lemah.
Kesimpulan:
Menemukan
jati diri dalam kacamata Islam bukan berarti mencari pembenaran untuk ego atau
hawa nafsu kita,. Jati diri sejati ditemukan ketika kita sadar bahwa kita
adalah seorang hamba yang butuh bimbingan Allah, berakhlak mulia kepada sesama,
dan selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat.
