Ngomongin soal mati ini ibarat rem tangan paling pakem dalam hidup. Kadang kita ini terlalu asyik tancap gas ngejar duniawi, mikirin status sosial, atau sibuk ributin hal-hal sepele, sampai lupa kalau malaikat Izrail bisa sowan kapan saja tanpa kirim pesan WhatsApp dulu.
Para
ulama tasawuf, khususnya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, menempatkan bab
mengingat mati (Dzikrul
Maut) sebagai terapi hati paling mujarab untuk meredam hawa nafsu,
membersihkan kesombongan, dan mengikis ketamakan dunia.
Dalil:
1. Hadis Nabawi:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِﷺ: «أَكْثِرُوا
مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: الْمَوْتِ»
Terjemahan:
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Perbanyaklah mengingat pemutus
segala kelezatan, yaitu kematian.'"
Sumber:
Sunan At-Tirmidzi (No. 2307) dan Sunan An-Nasa'i (No. 1824)
2. Nukilan Kitab Ihya' 'Ulumiddin (Imam Al-Ghazali):
قَالَ
حُجَّةُ الْإِسْلَامِ الإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فَاعْلَمْ أَنَّ
الْمَوْتَ هَائِلٌ وَخَطَرُهُ عَظِيمٌ، وَغَفْلَةُ النَّاسِ عَنْهُ كَثِيرَةٌ...
وَإِنَّمَا يُنْجِعُ فِي ذِكْرِ الْمَوْتِ أَنْ يُفَرِّغَ الْعَبْدُ قَلْبَهُ عَنْ
كُلِّ شَيْءٍ، وَيَنْصِبَ الْمَوْتَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَأَنَّهُ نَازِلٌ بِهِ،
فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ هَانَتْ عَلَيْهِ الدُّنْيَا، وَأَقْبَلَ عَلَى الْآخِرَةِ
بِكُلِّيَّتِهِ»
Terjemahan:
"Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: 'Ketahuilah
sesungguhnya kematian itu sangat dahsyat dan perkaranya luar biasa agung, namun
kelalaian manusia darinya begitu banyak... Dan sesungguhnya cara mengingat mati
yang paling manjur adalah seorang hamba mengosongkan hatinya dari segala urusan
duniawi, lalu menempatkan kematian tepat di depan kedua pelupuk matanya
seakan-akan maut sedang turun menjemputnya saat itu juga. Apabila ia telah
melakukan hal itu, maka dunia akan tampak remeh baginya, dan ia akan
menghadapkan seluruh jiwanya untuk menyongsong akhirat.'"
Sumber:
Ihya' 'Ulum ad-Din
(Juz 4, Kitab Dzikrul Maut wa ma Ba'dahu) karya Imam Al-Ghazali.
3. Nukilan Kitab At-Tadzkirah (Imam Al-Qurthubi):
قَالَ
الْعُلَمَاءُ: «ذِكْرُ الْمَوْتِ يَقْلَعُ مِنْ أُصُولِ الْخَطَايَا، وَيُسَلِّي
عَنِ الدُّنْيَا، وَيُهَوِّنُ عَلَى الْإِنْسَانِ الْمَصَائِبَ، وَمَنْ ذَكَرَ
الْمَوْتَ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلِ التَّوْبَةِ، وَقَنَاعَةِ
الْقَلْبِ، وَنَشَاطِ الْعِبَادَةِ»
Terjemahan:
"Para ulama berkata: 'Mengingat kematian itu dapat mencabut akar-akar
kemaksiatan, melipur lara dari gemerlap dunia, dan meringankan musibah yang
menimpa manusia. Barang siapa yang senantiasa mengingat mati, ia akan
dimuliakan dengan tiga perkara: (1) Bersegera bertaubat, (2) Hati yang qana'ah
(merasa cukup), dan (3) Semangat dalam beribadah.'"
Sumber:
At-Tadzkirah bi Ahwalil
Mauta wa Umuril Akhirah karya Imam Al-Qurthubi.
Penjelasan:
Imam
Al-Ghazali dalam Ihya'
mengklasifikasikan manusia ke dalam 3 tingkatan saat mengingat mati:
1. Al-Munhamik (Orang
yang Tenggelam dalam Dunia): Orang ini tidak suka mengingat mati. Kalaupun ingat, dia
merasa jengkel dan takut karena khawatir aset, jabatan, dan kesenangannya
hilang.
2. At-Ta'ib (Orang yang
Sedang Bertaubat):
Ia banyak mengingat mati agar timbul rasa takut (khauf) sehingga terdorong untuk segera
melunasi tobat, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki amal sebelum ajal tiba.
3. Al-'Arif (Orang yang
Mengenal Allah / Ma'rifatullah): Tingkatan para wali dan kekasih Allah. Mereka mengingat mati
bukan karena takut, melainkan karena rindu berjumpa dengan Sang Khaliq (asy-syauqu ila liqa'illah).
Kematian bagi mereka adalah jembatan menuju perjumpaan dengan Kekasih Sejati.
Kaitannya dengan Tradisi Aswaja:
Inilah alasan mendasar kenapa para ulama salaf dan tradisi Nahdlatul Ulama
(Aswaja) sangat merawat amaliah Ziarah
Kubur, Tahlilan, dan Pembacaan Talqin. Tradisi ini bukan cuma
mendoakan ahli kubur, tapi menjadi media edukasi dan pengingat nyata (tadzkirah) bagi yang
masih hidup: "Hari ini
kita yang membacakan tahlil di atas kuburnya, esok atau lusa kita yang akan
dibacakan tahlil di dalam liang lahat."
Kesimpulan:
Mengingat
mati bukan berarti kita disuruh pesimis, putus asa, atau berhenti bekerja,.
Justru dzikrul maut
adalah energi positif agar setiap detik hidup, rezeki, dan tenaga yang kita
miliki bernilai ibadah dan berkah sebelum kita dipanggil pulang menghadap Allah
ﷻ.
