Ruang Dakwah Lalu Ikhwanuddin
💬 Konsultasi Syariah

Nasihat Emas untuk Pemuda

 Masa muda itu ibarat kuah gulai yang lagi mendidih di pawon (dapur) pesantren; energinya luar biasa, darahnya panas, dan semangatnya membara!

Tapi ingat, masa muda ini masa paling krusial. Kalau energinya tidak disalurkan ke arah ngaji, mencari ilmu, dan ibadah, pemuda gampang tergelincir menjadi kaum rebahan yang galau tanpa arah, atau malah terjerumus arus pergaulan yang salah.

Para ulama salaf kita telah mewariskan mutiara nasihat emas yang sangat mahal harganya khusus untuk menempa jiwa seorang pemuda.

 


Dalil:

1. Hadis Keutamaan Pemuda Ahli Ibadah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّﷺ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ»

Terjemahan: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya... (salah satunya adalah) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Tuhannya.'"

Sumber: Shahih al-Bukhari (No. 660) dan Shahih Muslim (No. 1031)

2. Nasihat Emas Imam Asy-Syafi'i rahimahullah:

قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي دِيوَانِهِ: وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ ۞ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ وَذَاتُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى ۞ إِذَا لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ

Terjemahan: "Imam Syafi'i rahimahullah berkata dalam Diwan-nya: Barang siapa yang terlewatkan (tidak memanfaatkan) masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali atasnya (seperti mensholati jenazah) karena ia hakikatnya telah mati. Eksistensi dan harga diri seorang pemuda, demi Allah, hanya terletak pada ilmu dan ketakwaan. Jika kedua hal itu tidak ada pada dirinya, maka tidak ada harga lagi bagi keberadaannya."

Sumber: Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, Tahqiq Muhammad Ibrahim Salim.

3. Nasihat Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad:

قَالَ الإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «أَيُّهَا الْوَلَدُ، كَمْ مِنْ لَيَالٍ أَحْيَيْتَهَا بِتَكْرَارِ الْعِلْمِ وَمُطَالَعَةِ الْكُتُبِ، وَحَرَمْتَ عَلَى نَفْسِكَ النَّوْمَ؟ فَلَا أَعْلَمُ مَا كَانَ الْبَاعِثُ فِيهِ! إِنْ كَانَ نَيْلَ عَرَضِ الدُّنْيَا وَجَذْبَ حُطَامِهَا وَتَحْصِيلَ مَرَاتِبِهَا وَالْمُبَاهَاةَ عَلَى الْأَقْرَانِ، فَوَيْلٌ لَكَ ثُمَّ وَيْلٌ لَكَ! وَإِنْ كَانَ قَصْدُكَ فِيهِ إِحْيَاءَ شَرِيعَةِ النَّبِيِّﷺ وَتَهْذِيبَ أَخْلَاقِكَ وَكَسْرَ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ، فَطُوبَى لَكَ ثُمَّ طُوبَى لَكَ!»

Terjemahan: "Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah menasihati murid mudanya: 'Wahai anak muda, betapa banyak malam-malam yang kau hidupkan dengan mengulang pelajaran dan menelaah kitab-kitab, serta kau rela menahan kantukmu? Namun aku tidak tahu apa niat pendorongmu! Jika niatmu hanya demi meraih kesenangan dunia, mengumpulkan serpihan harta, mengejar jabatan tinggi, dan ajang sombong di hadapan teman-teman sebayamu, maka celakalah kamu, sungguh celaka! Namun jika tujuanmu adalah menghidupkan syariat Nabi Muhammad ﷺ, memperbaiki budi pekertimu, dan menundukkan hawa nafsu yang mengajak pada keburukan, maka beruntunglah kamu, sungguh beruntung bagimu!'"

Sumber: Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali.

Penjelasan:

Para sesepuh dan ulama Aswaja selalu berpesan bahwa ada 3 modal utama pemuda yang tidak boleh disia-siakan:

1.     Memanfaatkan Momen Emas (Waqtussyabab): Masa muda adalah masa di mana fisik masih kuat, hafalan masih encer, dan tanggungan hidup belum seberat ketika sudah tua. Imam Syafi'i sampai membuat analogi tajam: pemuda yang malas menuntut ilmu layak "dishalatkan jenazah", karena fisiknya hidup tapi akal dan jiwanya sudah mati.

2.     Keseimbangan Ilmu dan Taqwa: Kecerdasan tanpa akhlak dan taqwa hanya akan melahirkan pemuda yang licik. Sebaliknya, semangat ibadah tanpa bekal ilmu fikih yang matang bisa membuat pemuda gampang terprovokasi paham-paham radikal dan gampang membid'ah-bid'ahkan orang lain tanpa dasar (ghuluw).

3.     Meluruskan Niat (Tashihun Niyyah): Nasihat Imam Al-Ghazali mengingatkan agar pemuda jangan sampai terjebak penyakit pansos digital atau gila hormat. Belajar, bekerja, dan berkhidmah harus dilandasi niat ikhlas demi kemanfaatan umat dan mencari ridha Allah ﷻ.

Kesimpulan:

Wahai saudaraku... Jadilah pemuda yang memiliki kaki yang kokoh berpijak pada bumi (realitas dan kerja nyata) dan cita-cita yang menggantung tinggi di langit (akhirat dan ridha Ilahi). Isi hari-hari dengan terus tholabul 'ilmi, berbakti kepada orang tua dan guru, serta menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan.